Besok. 24 Desember. "Pertemuan" keempat bulannya kita. Yang artinya, sepanjang 4 bulan aku menjalani hidup dengan sedikit perbedaan. Ada rasa lelah terhadap manusia yang kembali kubawa ke mana-mana.
Iya, setelah ada kamu.
Tuan..
Kali ini, kalau boleh jujur, bolehkah kalau aku bilang kalau sebenarnya aku kecewa?
Kecewa pada keputusanmu untuk kembali lagi ke orang yang lama.
Maaf . Aku tetap menyimpan rasa kecewa meski aku tahu diri bahwa aku bukan siapa-siapa.
Tuan..
Kalau jawabanmu, "Ini hidupku, urusanku. Kau hanya orang asing, orang luar yang tidak tau apa-apa". Aku tidak akan menyangkalnya. Memang dari awal seharusnya kita tidak bertemu. Seharusnya aku tidak menaruh percaya pada orang yang tak kutemui wujudnya. Dan masih banyak "seharusnya" lain yang tidak bisa kutuliskan secara lengkap di sini. Satu hal yang pasti, mulai saat ini, aku tidak akan menerima kedatanganmu lagi.
Silahkan pergi ke tempat yang lain jika rumahmu kembali rusak. Jangan berteduh di rumahku, baik di waktu hujan atau panas. Karena aku tidak bisa menahanmu saat kau bergegas dan bersiap untuk pergi. Meskipun aku sangat sangat sangat ingin melakukannya. Akhir yang sudah tertebak. Seperti sebuah siklus yang terjadi berkali-kali. Untuk ke sekian kalinya, kau tetap kembali ke rumah yang bukan aku.
Tuan..
Aku ikut sedih melihatmu datang dengan raga dan jiwa yang terluka. Rasa perihnya ikut menjalar ke hati dan pikiranku. Tuan.. Tak bisakah kau jauhi sumber sakitmu itu?
Tapi Tuan..
Itu tidak mungkin, kan? Tidak mungkin kau melepasnya, karena yang membuatmu luka-luka justru dialah obatnya. Kau sakit sekaligus sembuh karena orang yang sama.
Aku jadi berpikir. Apakah semua hal yang menyakitimu kemarin, hanyalah imajinasi yang kau ciptakan dan ceritakan padaku untuk kupercayai? Sulit untuk percaya kau ternyata kembali secepat itu. Tidak logis untukku. Tapi di hadapan cinta, ternyata hal-hal yang tak bisa dipercaya oleh logika, jadi biasa-biasa saja, sah-sah saja terjadi.
Dan, Tuan..
Itulah alasanku menolak kedatanganmu lagi. Karena meski disakiti berulang kali, kau akan tetap kembali ke orang yang sekaligus menjadi sumber bahagiamu. Aku tidak membenci, baik kau, dia, hubungan kalian yang telah terjalin bertahun itu. Aku benci atas rasa khawatirku yang sia-sia. Emosi dan pikiran yang terkuras karena ikut bingung. Ujung-ujungnya apa? Kau langsung bahagia saat bersamanya.
Saranku, Tuan..
Untuk sakit yang mungkin akan datang, cepat-cepat terima dia. Jangan menunggu sehari, dua hari, seminggu, dua minggu untuk memastikan rasamu. Apalagi sok-sokan menolak ajakannya untuk balikan. Padahal jawabannya kau juga tahu,kamu tidak bisa kalau tidak dengan dia. Kau tidak bisa dengan orang lain karena orang lain bukan dia. Kau juga sembuh karena dia, kan?
Jadi, Tuan..
Aku lelah mendengar ceritamu yang sama terus ending-nya. Ingin marah, tapi aku siapa? Ingin melarang, hakku apa? Karena bila kau masih bercerita tentang alur yang sama, jelas aku tidak akan percaya lagi. Mungkin aku akan berbalik menertawai kisahmu, tertawa di atas penderitaanmu. Kau tidak ingin itu, kan?
Cari orang lain, Tuan. Di platform yang mempertemukan kau dan aku. Ada banyak manusia yang mengisi kegabutannya. Barangkali, keluh kesahmu sangat menarik untuk mengisi waktu kosong mereka. Ceritalah dengan orang-orang itu. Jangan aku.
Beritahu aku jika kau menikah dengannya. Itu saja.